Alasan mengapa dalam Bimbinga dan Konseling dslam perlu mempelajari psikologi agama
Dalam bimbingan konseling kita
sebagai konselor perlu mempelajari psikologi agama karena agama merupakan
landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi
keagamaan sebagai factor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Dalam
proses pelayanan yang diberikan kepada setiap individu/siswa, konselor harus
memperhatikan dimensi keagamaannya sehingga pemberian solusi akan sesuai dengan
apa yang mereka yakini, tidak pertentangan dengan prinsip agama yang mereka
anut.
Seorang konselor sangatlah penting untuk memahami
landasan agama secara baik karena konselor tidak hanya sekedar menuangkan
pengetahuan di otak saja atau pengarahan kecakapanya saja tetapi agama penting
untuk menumbuhkan moral, tingkah laku, serta sikap siswa yang sesuai dengan
ajaran agamanya. Sehingga kepribadian serta sikap jiwanya harus dapat
mengendalikan tingkah lakunya dengan cara yang sesuai dengan ajaran dan
tuntutan agamanya.
Landasan religious dalam layanan
bimbingan dan konseling islam ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu :
1.
Manusia
sebagai makhluk tuhan.
2.
Sikap
yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan kearah dan
sesuai dengan kaidah-kaidah agama.
3.
Upaya
yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan
perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan
yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu
perkembangan dan pemecahan masalah.
Ditegaskan pula oleh Moh.Surya (2006) bahwa salah satu
tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual.
Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta kemajuan ekonomi yang dialami oleh bangsa-bangsa barat yang ternyata
telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan
batiniah dan berkembanganya rasa kehampaan. Saat ini sedang berkembang
kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandasan nilai-nilai spiritual.
Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling
yang berlandasan spiritual atau religi.
Agama (religion) berasal dari kata latin “religio”,
berarti “tie-up” dalam bahasa inggris, religion dapat diartikan “having engaged
‘god’ atau “the sacred power’”.
Melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu
mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi klien/siswanya. Karena agama
mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup
dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia dunia dan akhirat.
sejarah perkembangan Psikologi Agama
Psikologi agama merupakan cabang dari psikologi.sebelum
menjadi ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki latar belakang sejarah
perkembangan yang cukup lama. Karena itu, psikologi agama dinilai sebagai
cabang psikologi yang relative masih muda.
Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama
mulai dipelajari memang terasa agak suli. Baik dalam kitab suci, maupun sejarah
tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. Namun
demikian, walupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi
ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melaui informasi
kitab suci agama maupun sejarah agama.
Perjalanan hidup Sidraharta Gautama dari seorang putra
Raja Kapilawastu yang bersedia mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk
menjadi seorang pertapa menunjukkan bagaimanan kehidupan batin yang dialamainya
dalam kaitannya dengan keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah
keyakinan agama ini mengungkapkan pengalaman keagamaan yang mempengaruhi diri
tokoh agama budha. Dan prose situ kemudian dalam psikologi agama disebut dengan
konversi agama.
Sidharta Gautama yang putra raja itu, sejak kecil
sudah hidup dalam lingkungan istana yang serba mewah. Tetapi, ketika usia
remaja , saat melihat kehidupan masyrakat, Sidhrata menyaksikan segala bentuk
penderitaan manusia dari yang tua, sakitdan orang yang meninggal dunia,
pemandangan seperti itu tak pernah dilihat Sidhrata sebelumnya. Dari dialog
dengan pengawalnya, Sidhrata berkesimpuan bahwa kehidupan manusia penuh dengan
penderitaan, mengalami usia lanjut, sakit, dan akhirnya akan mati.
Segala yang disaksikan oleh Sidhrata itu kemudia
membatin dalam dirinya, hingga pada suatu malam ia keluar dari istana dan
meninggalkan segala kemewahan hidup. Ia mengasingkan diri menjadi pertapa,
hingga kemudia member arah baru dalam kehidupan selanjutnya. Sidhrata Gautama
mengalami konvensi agama dari pemeluk agama Hindu menjadi pendakwah agama baru,
yaitu agama Budha. Sidhrata kemudian dikenal sebagai Budha Gautama.
Proses yang hamper serupa dilukiskan pula dalam
Al-Qur’antentang cara Ibrahim a.s. memimpin ummatnya untuk bertauhid kepada
Allah. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang lalu
berkata :
“inilah Tuhanku:. Tetapi tetkala bintang itu tenggelam
dia berkata : “saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian, tatkala dia
melihat bulan terbit, dia berkata : “inilah Tuhanku,” tetapi setelah bulan itu
terbenam dia berkata : “sesungguhnya jika Tuhanku tidak member petunjuk
kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian, tatkala dia
melihat matahari terbit dia berkata :”inilah Tuhanku. Ini yang lebih besar”
maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : “Hai kaumku,
sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”
(Q.s 6 :
76-78).
Perumpamaan ini melukiskan bagaimana proses konvensi
terjadi, walaupun dalam informasi kitab suci tersebut dikiaskan kepada Ibrahim
A.S yang berusaha meyakinkan pengikutnya tentang kekeliruan merekamenyembah
benda-benda alam, yang hakikatnya hanyalah ciptaan dan tak layak disembah.
Berdasarkan sumber Barat, para ahli psikologi agama
menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai popoler sekitar akhir abad
ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai
alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap
cara bertingkah laku, berpikir, dan mengemukakan perasaan keagamaan.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama
ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an yaitu oleh Dr.Zakirah Darajat. Ada
sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku peganggan bagi mahasiswa
di lingkungan IAIN. Diluar itu, kuliah mengenai psikologi agama juga sudah
diberikan, khususnya di Fakultas Tarbiyah oleh Prof. Dr. A.Mukti Ali dan Prof.
Dr. Zakiah Darajat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor
pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
Psikologi agama tergolong yang berusia muda.
Berdasarkan informasi dari berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa
kelahiran psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri memiliki
latar belakang sejarah yang cukup penjang. Selain itu, pada tahap-tahap awalnya
psikologi agaa didukung oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu.
Sebagai disiplin ilmu boleh dikatakan, psikologi agama
dapat dirujuk dari karya penulis Barat, antyara lain karya Jonathan Edward,
Emile Durkheim, Edward B. Taylor maupun Stanley hall yang memuat kajian
mengenai agama suku-suku primitive dan mengenai konversi agama. Kajian
sosiologi dan antropologi budaya ini menampilkan sisi-sisi kehidupan masyarakat
suku primitive dan sikap hidup mereka terhadap sesuatu yang dianggap sebagai
yang adikodrati (supernatural).
Perkembangan psikologi agama yang cukup pesat ini
antara lain ditandai dengan diterbitkannya berbagai karya tulis, baik berupa
buku maupun artikel dan jurnal yang membuat kajian tentang bagaimana peran
agama dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, psikologi agama kini telah
memasuki berbagai bidang kehidupan manusi, sejak dari rumah tangga, sekolah,
institusi keagamaan, rumah-rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, dan bahkan
hinggan ke lembaga kemasyarakatkan.
perkembangan jiwa keberagamaan pada anak-anak.
Perkembangan jiwa keberagamaan pada
anak-anak itu melalui tiga tingkatan yaitu :
1.
The fairy Tale Stage ( Tingkat Dongeng ).
Tingkatan ini dimulai pada
anak-anak yang beusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih
banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkatan perkembangan ini anak
mengahayati konsep ke-Tuhanan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan
fantasi, hingga dalam menanggapi agama pun anak masih menggunakan konsep
fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng kurang masuk akal.
2.
The
Realistic Stage (Tingkat Kenyataan).
Tingkat ini dimulai sejak
anak masuk sekolah dasar hingga ke usia (masa usia) adolaesanse. Pada masa ini,
id eke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada
kenyataan (realitas). Konsep ini timbul melaui lembaga-lembaga keagamaan dan
pengajar agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide kagamaan anak
didasarkan atas dorongan emosional, hingga hal itu, maka pada masa ini
anak-anak tertarik dan senang pada lembaga kegamaan yang mereka lihat dikelola
oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka. Segala bentuk tindak (amal)
keagamaan mereka ikuti dan pelajari dengan penuh minat.
3.
The
Individual Stage (Tingkat Individu).
Pada tingkat ini anak telah
memiliki kepekaan emosi yang paliang tinggi sejalan dengan perkembangan usia
mereka. Konsep keagamaan yang insdividualistis ini terbagi atas tiga golongan,
yaitu :
a.
Konsep
ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil
fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar.
b.
Konsep
ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat
personal (perorangan).
c.
Konsep
ke-Tuhanan yang bersifat humanistic. Agama telah menjadi etos humanis pada diri
mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan
dipengaruhi oleh factor intern, yaitu perkembangan usia dan factor ekstern
berupa pengaruh luar yang dialamaninya.
Sebagai makhluk ciptaan tuhan, sebenarnya potensi
agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan, potensi ini berupa
dorongan untuk mengabdi kepada sang pencipta. Dalam terminology islam,
dorongana ini dikenal dengan hidayat
al-Diniyyat (baca: Hidayatud diniyah), berupa benih-benih keberagaman yang
dianugrahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia
pada hakikatnya adalah makhluk beragama.
Contoh perkembangan jiwa keberagaman pada masa anak-anak
yaitu : dalam lingkungan keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan pertama atau utama bagi
anak oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak
sangatlah dominan. Menurut Horlock (1959:434) keluarga merupakan “training
center” bagi penanaman nilai-nilai pengembangan fitrah atau jiwa beragama anak,
bersamaan dengan perkembangan kepribadian, yaitu sejak lahir bahkan lebih dari
itu sejak dalam kandungan. Pandangan ini didasarkan pengamatan para ahli jiwa
terhadap orang yang mengalami gangguan jiwa ; ternyata mereka itu dipengaruhi
oleh kedaan emosi atau sikap orang tua (terutama ibu) pada masa mereka dalam
kandungan.
Dalam keluarga hendaknya peran orang tua sangatlah
penting. Ada beberapa hal yang perlu menjadi kepedulian (perhatian) orang tua
sebagai berikut :
1.
Menjadi
sosok yang patut ditiru, karena pada masa anak-anak ini mereka akan
mengidentifikasi sosok yang mereka kenal.
2.
Member
perlakuan yang baik, sekalipun si anak melakukan kesalahan.
3.
Orang
tua hendaknya membimbing, mengajarkan atau melatih ajaran agama terhadap anak.
ayat atau hadits yang berhubungan tentang hakikat manusia.
Ayat yang berhubungan tentang hakikat manusia yaitu :
Manusia adalah mkhluk Allah. Ia bukan terjadi dengan
sendirinya, tetapi dijadikan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam
Al-Qur’an surah Ar-Rum ayat 40, yang berbunyi :
Artinya :
“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian
mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali)” (Q.S Ar-Rum : 40).
Salah satu
hadits yang berhubungan tentang hakikat manusia, yaitu :
Setiap anak itu dilahirkan dalam
keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang
Yahudi, nasrani dan majusi (penyembahan api). Apabila kedua orang tuanya muslim
maka anaknya pun akan menjadi muslim. Setiap bayi yang dilahirkan dipukul oleh
syetan pada kedua pinggangnya, kecuali maryam dan anaknya (Isa). [HR.Muslim
No.4807].
Daftar pustaka :
Salahudin, anas.
Bimbingan dan Konseling. Bandung: pusraka setia.2010.
Jalaluddin.
Psikologi Agama Ed. Rev,-9,- Jakarta ; PT.Raja Grafindo Persada. 2005.
Panduan lengkap
dan praktis psikologi islam ; Muhammad Izzuddin Taufiq ; penerjemah, Sari
Narulita, Lc. Dkk. ; penyunting, Harlis Kurniawan ;-cet, 1-Jakarta. Gema Insani
Press. 2006.
Al-Afifi , Thoha
Abdullah, Hak Orang Tua pada Anak dan hak Anak pada Orang Tua, terj. Zaid Husein
Alhamus, Dar El Fikr Indonesia, Jakarta. 1987.
Abdul Mujib dan
Jusuf mudzakir, nuansa-nuansa psikologi islam, Jakarta. PT.Rja Grafindo
Persada. 2002, cet II.
Hanna Djumhana
Bastaman. Integrasi psikologi dengan islam menuju psikologi islam. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.1997.