Jumat, 02 Juni 2017

Ruang Lingkup Psikologi Agama

       Alasan mengapa dalam Bimbinga dan Konseling dslam perlu mempelajari psikologi agama
        
        Dalam bimbingan konseling kita sebagai konselor perlu mempelajari psikologi agama karena agama merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi keagamaan sebagai factor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Dalam proses pelayanan yang diberikan kepada setiap individu/siswa, konselor harus memperhatikan dimensi keagamaannya sehingga pemberian solusi akan sesuai dengan apa yang mereka yakini, tidak pertentangan dengan prinsip agama yang mereka anut.
Seorang konselor sangatlah penting untuk memahami landasan agama secara baik karena konselor tidak hanya sekedar menuangkan pengetahuan di otak saja atau pengarahan kecakapanya saja tetapi agama penting untuk menumbuhkan moral, tingkah laku, serta sikap siswa yang sesuai dengan ajaran agamanya. Sehingga kepribadian serta sikap jiwanya harus dapat mengendalikan tingkah lakunya dengan cara yang sesuai dengan ajaran dan tuntutan agamanya.
            Landasan religious dalam layanan bimbingan dan konseling islam ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu :
1.      Manusia sebagai makhluk tuhan.
2.      Sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama.
3.      Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah.
Ditegaskan pula oleh Moh.Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami oleh bangsa-bangsa barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembanganya rasa kehampaan. Saat ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandasan nilai-nilai spiritual. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandasan spiritual atau religi.
Agama (religion) berasal dari kata latin “religio”, berarti “tie-up” dalam bahasa inggris, religion dapat diartikan “having engaged ‘god’ atau “the sacred power’”.
Melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi klien/siswanya. Karena agama mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia dunia dan akhirat.


sejarah perkembangan Psikologi Agama

Psikologi agama merupakan cabang dari psikologi.sebelum menjadi ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki latar belakang sejarah perkembangan yang cukup lama. Karena itu, psikologi agama dinilai sebagai cabang psikologi yang relative masih muda.
Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak suli. Baik dalam kitab suci, maupun sejarah tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. Namun demikian, walupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melaui informasi kitab suci agama maupun sejarah agama.
Perjalanan hidup Sidraharta Gautama dari seorang putra Raja Kapilawastu yang bersedia mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang pertapa menunjukkan bagaimanan kehidupan batin yang dialamainya dalam kaitannya dengan keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini mengungkapkan pengalaman keagamaan yang mempengaruhi diri tokoh agama budha. Dan prose situ kemudian dalam psikologi agama disebut dengan konversi agama.
Sidharta Gautama yang putra raja itu, sejak kecil sudah hidup dalam lingkungan istana yang serba mewah. Tetapi, ketika usia remaja , saat melihat kehidupan masyrakat, Sidhrata menyaksikan segala bentuk penderitaan manusia dari yang tua, sakitdan orang yang meninggal dunia, pemandangan seperti itu tak pernah dilihat Sidhrata sebelumnya. Dari dialog dengan pengawalnya, Sidhrata berkesimpuan bahwa kehidupan manusia penuh dengan penderitaan, mengalami usia lanjut, sakit, dan akhirnya akan mati.
Segala yang disaksikan oleh Sidhrata itu kemudia membatin dalam dirinya, hingga pada suatu malam ia keluar dari istana dan meninggalkan segala kemewahan hidup. Ia mengasingkan diri menjadi pertapa, hingga kemudia member arah baru dalam kehidupan selanjutnya. Sidhrata Gautama mengalami konvensi agama dari pemeluk agama Hindu menjadi pendakwah agama baru, yaitu agama Budha. Sidhrata kemudian dikenal sebagai Budha Gautama.
Proses yang hamper serupa dilukiskan pula dalam Al-Qur’antentang cara Ibrahim a.s. memimpin ummatnya untuk bertauhid kepada Allah. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang lalu berkata :
“inilah Tuhanku:. Tetapi tetkala bintang itu tenggelam dia berkata : “saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian, tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata : “inilah Tuhanku,” tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata : “sesungguhnya jika Tuhanku tidak member petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian, tatkala dia melihat matahari terbit dia berkata :”inilah Tuhanku. Ini yang lebih besar” maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” 
(Q.s 6 : 76-78).
Perumpamaan ini melukiskan bagaimana proses konvensi terjadi, walaupun dalam informasi kitab suci tersebut dikiaskan kepada Ibrahim A.S yang berusaha meyakinkan pengikutnya tentang kekeliruan merekamenyembah benda-benda alam, yang hakikatnya hanyalah ciptaan dan tak layak disembah.
Berdasarkan sumber Barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai popoler sekitar akhir abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir, dan mengemukakan perasaan keagamaan.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an yaitu oleh Dr.Zakirah Darajat. Ada sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku peganggan bagi mahasiswa di lingkungan IAIN. Diluar itu, kuliah mengenai psikologi agama juga sudah diberikan, khususnya di Fakultas Tarbiyah oleh Prof. Dr. A.Mukti Ali dan Prof. Dr. Zakiah Darajat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
Psikologi agama tergolong yang berusia muda. Berdasarkan informasi dari berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa kelahiran psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri memiliki latar belakang sejarah yang cukup penjang. Selain itu, pada tahap-tahap awalnya psikologi agaa didukung oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu.
Sebagai disiplin ilmu boleh dikatakan, psikologi agama dapat dirujuk dari karya penulis Barat, antyara lain karya Jonathan Edward, Emile Durkheim, Edward B. Taylor maupun Stanley hall yang memuat kajian mengenai agama suku-suku primitive dan mengenai konversi agama. Kajian sosiologi dan antropologi budaya ini menampilkan sisi-sisi kehidupan masyarakat suku primitive dan sikap hidup mereka terhadap sesuatu yang dianggap sebagai yang adikodrati (supernatural).
Perkembangan psikologi agama yang cukup pesat ini antara lain ditandai dengan diterbitkannya berbagai karya tulis, baik berupa buku maupun artikel dan jurnal yang membuat kajian tentang bagaimana peran agama dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, psikologi agama kini telah memasuki berbagai bidang kehidupan manusi, sejak dari rumah tangga, sekolah, institusi keagamaan, rumah-rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, dan bahkan hinggan ke lembaga kemasyarakatkan.

perkembangan jiwa keberagamaan pada anak-anak.

 Perkembangan jiwa keberagamaan pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan yaitu :
1.       The fairy Tale Stage  ( Tingkat Dongeng ).
Tingkatan ini dimulai pada anak-anak yang beusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkatan perkembangan ini anak mengahayati konsep ke-Tuhanan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi, hingga dalam menanggapi agama pun anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng kurang masuk akal.
2.      The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan).
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar hingga ke usia (masa usia) adolaesanse. Pada masa ini, id eke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul melaui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajar agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide kagamaan anak didasarkan atas dorongan emosional, hingga hal itu, maka pada masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga kegamaan yang mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka. Segala bentuk tindak (amal) keagamaan mereka ikuti dan pelajari dengan penuh minat.
3.      The Individual Stage (Tingkat Individu).
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paliang tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang insdividualistis ini terbagi atas tiga golongan, yaitu :
a.       Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar.
b.      Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan).
c.       Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistic. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan dipengaruhi oleh factor intern, yaitu perkembangan usia dan factor ekstern berupa pengaruh luar yang dialamaninya.
Sebagai makhluk ciptaan tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan, potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada sang pencipta. Dalam terminology islam, dorongana ini dikenal dengan hidayat al-Diniyyat (baca: Hidayatud diniyah), berupa benih-benih keberagaman yang dianugrahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia pada hakikatnya adalah makhluk beragama.
Contoh perkembangan jiwa keberagaman pada masa anak-anak yaitu : dalam lingkungan keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan pertama atau utama bagi anak oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah dominan. Menurut Horlock (1959:434) keluarga merupakan “training center” bagi penanaman nilai-nilai pengembangan fitrah atau jiwa beragama anak, bersamaan dengan perkembangan kepribadian, yaitu sejak lahir bahkan lebih dari itu sejak dalam kandungan. Pandangan ini didasarkan pengamatan para ahli jiwa terhadap orang yang mengalami gangguan jiwa ; ternyata mereka itu dipengaruhi oleh kedaan emosi atau sikap orang tua (terutama ibu) pada masa mereka dalam kandungan.
Dalam keluarga hendaknya peran orang tua sangatlah penting. Ada beberapa hal yang perlu menjadi kepedulian (perhatian) orang tua sebagai berikut :
1.      Menjadi sosok yang patut ditiru, karena pada masa anak-anak ini mereka akan mengidentifikasi sosok yang mereka kenal.
2.      Member perlakuan yang baik, sekalipun si anak melakukan kesalahan.
3.      Orang tua hendaknya membimbing, mengajarkan atau melatih ajaran agama terhadap anak.


ayat atau hadits yang berhubungan tentang hakikat manusia.

Ayat yang berhubungan tentang hakikat manusia yaitu :
Manusia adalah mkhluk Allah. Ia bukan terjadi dengan sendirinya, tetapi dijadikan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Ar-Rum ayat 40, yang berbunyi :
Artinya : “Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali)” (Q.S Ar-Rum : 40).

          Salah satu hadits yang berhubungan tentang hakikat manusia, yaitu :
          Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, nasrani dan majusi (penyembahan api). Apabila kedua orang tuanya muslim maka anaknya pun akan menjadi muslim. Setiap bayi yang dilahirkan dipukul oleh syetan pada kedua pinggangnya, kecuali maryam dan anaknya (Isa). [HR.Muslim No.4807].



           






Daftar pustaka :
Salahudin, anas. Bimbingan dan Konseling. Bandung: pusraka setia.2010.
Jalaluddin. Psikologi Agama Ed. Rev,-9,- Jakarta ; PT.Raja Grafindo Persada. 2005.
Panduan lengkap dan praktis psikologi islam ; Muhammad Izzuddin Taufiq ; penerjemah, Sari Narulita, Lc. Dkk. ; penyunting, Harlis Kurniawan ;-cet, 1-Jakarta. Gema Insani Press. 2006.
Al-Afifi , Thoha Abdullah, Hak Orang Tua pada Anak dan hak Anak pada Orang Tua, terj. Zaid Husein Alhamus, Dar El Fikr Indonesia, Jakarta. 1987.
Abdul Mujib dan Jusuf mudzakir, nuansa-nuansa psikologi islam, Jakarta. PT.Rja Grafindo Persada. 2002, cet II.
Hanna Djumhana Bastaman. Integrasi psikologi dengan islam menuju psikologi islam. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.1997.