Jumat, 07 Juli 2017

kolerasi antara kepribadian manusia dengan sikap keagamaan

Kepribadian adalah sesuatu yang pasti terdapat dalam diri setiap manusia, baik manusia itu beragama maupun tidak. Secara umum kepribadian terdapat dalam diri setiap individu yang normal. Sedangkan orang yang tidak normal kepribadiannya tidak tertentu dan tidak dapat diamati secara pasti, walaupun pada dasarnya setiap kepribadian itu dapat diamati melalui gejala-gejala yang tampak.
Pada ilmu psikologi kepribadian dibahas dalam kajian ilmu yang termasuk bagian dari psikologi secara tersendiri. Maka hal itu memunculkan ilmu baru yaitu psikologi kepribadian. Kemudian dalam psikologi agama juga dibahas kepribadian orang beragama atau dapat dikatakan kepribadian orang menurut pandangan atau sudut pandang agama.
Dalam pandangan psikologi agama manusia mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, maka dari itu menimbulkan sikap keagamaan yang berbeda-beda pula. Disamping itu juga menimbulkan sesuatu yang berbeda, jika orang tersebut berbeda agama, karena agama yang satu dengan agama yang lain berbeda.

A.    Pengertian dan teori kepribadian
Kepribadian seseorang tumbuh dan terbentuk dalam kelompoknya. Sejak kecil, anak membutuhkan sekelompok orang yang memerhatikannya, yakni orangtua dan anggota keluarga lainnya. Semakin besar anak, semakin bertambah kebutuhannya untuk bergabung dengan kelompok yang berada di luar keluarga, yaitu kelompok anak-anak lain untuk memenuhi keinginan bermain. Lingkungan akan bertambah luas seiring dengan bertambah besarnya si anak. Akan tetapi, bertambah luasnya pergaulan menimbulkan persoalan-persoalan akibat perbedaan pembinaan kepribadian dan tingkat budaya kelompok, ekonomi, dan sosial masing-masing.[1]
Kepribadian adalah metode berpikir manusia terhadap realita. Kepribadian juga merupakan kecenderungan-kecenderungan manusia terhadap realita. Dan dengan arti yang lain, kepribadian manusia adalah pola pikir dan pola jiwanya.[2]
Istilah-istilah yang dikenal dalam kepribadian adalah:
1. Mentality, yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual.
2. Individuality, adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainnya.
3. Identity, yaitu sifat kedirian sebagai satu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (Unity and persistance of personality).
Wetherington menyimpulkan bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.) Manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya
2.) Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dari keseluruhan itu
3.) Kata kepribadian menyatakan pengertian tertentu saja yang ada pada pikiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang
4.) Kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis, seperti bentuk badan atau ras, tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang
5.) Kepribadian tidak bekembang sacara pasif saja, setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial[3]

B.    Tipe-Tipe Kepribadian
Secara garis besarnya pembagian tipe kepribadian manusia ditinjau dari berbagai aspek antara lain:
1.      Aspek biologis
Aspek biologis yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang ini didasarkan atas konstitusi tubuh dan bentuk tubuh yang dimiliki seseorang, tokoh-tokoh yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek biologis ini antarannya:
a.Hippocrates dan Galenus
Mereka berpendapat, bahwa yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang adalah jenis cairan tubuh yang paling dominan.
b.Kretchmer
Dalam pembagian tipe wataknya Kretchmer mendasarkan pada bentuk tubuh seseorang.
c.Sheldon
Sheldon membagi tipe kepribadian berdasarkan dominasi lapisan yang berbeda dalam tubuh seseorang.
2.      Aspek Sosiologis
Pembagian ini didasarkan kepada pandangan hidup dan kualitas sosial seseorang. Yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek sosiologi ini antara lain :




a.Edward Spranger
Ia berpendapat bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pandangan hidup mana yang dipilihnya.
b.Muray
Muray membagi tipe kepribadianya menjadi 4 yaitu:
1) Tipe teoritis
2) Tipe Humanis
3) Tipe Sensasionis
4) Tipe Praktis
c.Fritz Kunkel
Kunkel membagi tipe kepribadian menjadi:
1.) Tipe Sachelichkeit, yaitu tipe orang yang banyak menaruh perhatian terhadap masyarakat.
2.) Tipe Ichhaftigkeit, yaitu tipe orang yang lebih banyak menaruh perhatian kepada kepentingan diri sendiri.
Menurut F. Kunkel antara sachelichkeit dan ichhaftigkeit berbanding balik. Jika seseorang memiliki sachelichkeit yang besar, maka ichhaftigkeitnya menjadi kecil dan sebaliknya.
3.      Aspek psikologis
 Dalam pembagian tipe kepribadian berdasarkan psikologis Prof.Heyman mengemukakan, bahwa dalam diri manusia terdapat tiga unsur:Emosionalitas, Aktifitas dan fungsi sekunder (peroses pengiring).
Selanjutnya, Carl Gustav yang membagi manusia menjadi dua pokok:[4]
1.) Tipe Extrovert, yaitu orang yang terbuka dan banyak berhubungan dengan kehidupan nyata.
2.) Tipe Introvert, yaitu orang yang tertutup dan cenderung kepada berpikir dan merenung.

C. Hubungan Kepribadian dan Sikap Keagamaan
1. Sigmund Freud
            merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainnya id, ego dan super ego. Dalam diri seseorang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam suatu susunan yang harmanis. Segala bentuk tujuan dan segala gerak-geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok.


2.Menurut Eysenck,
kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan dan disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hierarki berdasarkan atas keumuman dan kepentingannya, diurut dari yang paling bawah ke yang paling tinggi adalah:
a. Specific response, yaitu tindakan suatu respons yang menjadi pada suatu keadaan atau kejadian tertentu, jadi khusus sekali.
b.  Habitual response mempunyai corak yang lebih umum dari pada specific responce, yaitu respon-respon yang berulang-ulang terjadi saat individu menghadapi kondisi atau situasi yang sama.
c. Trait, yaitu terjadi saat habitual respons yang saling berhubungan satu sama lain, dan cenderung ada pada indivudu tertentu.
d. Type, yaitu organisasi dalam individu yang lebih umum, lebih mencakup lagi.

3. Menurut pendapat Sukamto M.M.
Kepribadian terdiri dari empat sistem atau aspek,yaitu:
a.Qalb (angan-angan kehatian)
Qalb adalah hati yang menurut istilah kata (terminologis) artinya sesuatu yang berbolak-balik (sesuatu yang lebih), berasal dari kata qalaba, artinya membolak-balikkan. Qalb bisa diartikan hati sebagai daging sekepal (biologis), dan juga bisa berarti ‘kehatian’ (nafsiologis).
b.Fuad (perasaan/hati nurani/ulu hati)
Fuad adalah perasaan yang terdalam hati yang sering kita sebut Hati Nurani (cahaya mata hati), dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati, dan merasakan akibatnya. Kalau hati kufur, fuadpun kufur dan menderita. Kalau hati bergejolak karena terancam oleh bahaya, atau hati tersentuh oleh siksaan batin, fuad serasa seperti terbakar. Kalau hati tenang, fuadpun tenteram dan tenang. Satu lagi kelebihan fuad dibanding dengan hati ialah, bahwa fuad itu dalam situasi yang bagaimanapun, tidak bisa didusta. Ia tidak bisa menghianati kesakitan terhadap apa yang dipantulkan oleh hati dan apa yang diperbuat oleh ego.Ia berbicara apa adanya.

c.Ego (aku sebagai pelaksana dari kepribadian)
Ego adalah derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia sesuatu yang subyektif dan yang abyek (dunia realitas). Di dalam fungsinnya, ego berpegang pada prinsip kenyataan (reality principle). Tujuan prinsip kenyataan ini ialah mencari obyek yang tepat (serasi) untuk mereduksikan ketegangan yang timbul dalam organisme. Ia merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinnya (biasanya dengan tindakan) untuk mengetahui, apakah rencana itu berhasil atau tidak.
d.Tingkah laku (wujud gerakan)
Nafsiologi kepribadian berangkat dari kerangka acuan dan asumsi-asumsi subyektif tentang tingkah laku manusia, karena bahwa menyadari bahwa tidak seorang pun bisa bersifat obyektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia. Tingkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang disadari oleh pribadi. Kesadaran adalah sebab dari tingkah laku. Artinya,bahwa apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh individu itu menentukan apa yang akan dikerjakan. Adanya nilai yang dominan mewarnai seluruh kepribadian seseorang dan ikut serta menentukan tingkah lakunnya.
Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku, dalam nafsiologi ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal soleh disegala tempat. Kebaikan dari ketentuan itu adalah abnormal, yaitu sifat-sifat zalim, fasik, syirik, kufur, nifak dan sejenis itu.

D.    Dinamika Kepribadian
Selain tipe dan struktur, kepribadian juga memiliki semacam dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah:[5]
1.Energi rohaniah  (psychis energy)
berfungsi sebagai pengatur aktifitas rohaniah seperti berfikir, mengingat, mengamati dan sebagainya.
2.Naluri
berfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer seperti makan, minum dan sex. Sumber naluri adalah kebutuhan jasmaniah dan gerakan hati. Berbeda dengan energi rohaniah, maka naluri mempunyai sumber(pendorong), maksud dan tujuan.
3.Ego (Aku Sadar)
berfungsi untuk meredakan ketegangan dalam diri dengan cara melakukan aktifitas penyesuaian dorongan-dorongan yang ada dengan kenyataan obyektif (realitas). Ego  memiliki kesadaran untuk menyelaraskan dorongan yang baik dan buruk hingga tidak terjadi kegelisahan atau ketegangan batin.
4.Superego 
berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin berupa penghargaan (rasa puas, senang, berhasil) maupun berupa hukuman (rasa bersalah, berdosa, menyesal). Penghargaan batin diperankan oleh ego ideal, sedangkan hukuman batin dilakukan oleh hati nurani.


A.    Kesimpulan
Kepribadian adalah metode berpikir manusia terhadap realita. Kepribadian juga merupakan kecenderungan-kecenderungan manusia terhadap realita. Dan dengan arti yang lain, kepribadian manusia adalah pola pikir dan pola jiwanya.
sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainnya id, ego dan super ego. Dalam diri seseorang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam suatu susunan yang harmanis. Segala bentuk tujuan dan segala gerak-geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok.
Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu sama lainnya, maka orang tersebut dinamainnya sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri. Ia menjadi tidak puas dengan dirinnya dan lingkunganya. Dengan kata lain efisiennya menjadi berkurang.
Selain tipe dan struktur, kepribadian juga memiliki semacam dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah: energi rohaniah (psychis energy), naluri, ego (aku sadar), dan Superego.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bambang SyamsulPsikologi Agama, (Bandung: Pustaka Setia, 2008).
Purwanto, YadiPSIKOLOGI KEPRIBADIAN (Integrasi Nafsiyah dan ‘Aqliyah Perspektif Psikologi Islami), (Bandung: Refika Aditama, 2007).
Jalaluddin. Psikologi Agama. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), Ed. Rev 9.
SapuriRafyPsikologi Islam. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009). Ed. 1.



[1]Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Agama, (Bandung: Pustaka Setia, 2008). 241-142.
[2]Yadi Purwanto, PSIKOLOGI KEPRIBADIAN (Integrasi Nafsiyah dan ‘Aqliyah Perspektif Psikologi Islami), (Bandung: Refika Aditama, 2007). 253-254.
[3] Jalaluddin. Psikologi Agama. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), Ed. Rev 9. 175.
[4] Rafy SapuriPsikologi Islam. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009). Ed. 1153.
[5] Jalaluddin. Psikologi Agama. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), Ed. Rev 9. 180.